Always Love you
Fanfiction
Genre :
Romance
Author :
Hasna Naurah
Cast :
ッ
Choi Jina (Original Cast)
ッ
Choi jennie (Original Cast)
Member
bigbang:
ッ
Kang Dae Sung
ッ
Lee Seung hyun
a.k.a (seungri)
ッ
Kwon jiyoung
(jiyoung)
ッ
Do Young Bae
(Taeyang)
ッ
Choi seung
hyun (T.O.P)
“kau yakin akan melanjutkan kuliahmu di paris nanti jika sudah lulus?”
tanyaku begitu penasaran padahal aku telah menanyakan itu berkali kali
“sepertinya
pertanyaan yang kau tanya sudah kau ucapkan ribuan kali padaku” ucapnya
memandangi buku yang sedang ia baca dan mengobrol denganku.
“aku
hanya meyakinkan, lagipula disini aku dengan siapa?” ucapnya tiba tiba memasang
wajah sedih akan kehilanganku.
“Choi
Jina, jika aku pergi ke paris kau juga akan ke jepang untuk bertemu umma dan
appa” ucapku sambil terus membujuknya agar aku diijinkan pergi ke paris jika
lulus kuliah nanti
Aku
memiliki saudara kembar yang cukup manis dan cantik sepertiku, ya itu karena
aku dan dia mirip sekali sehingga cukup sulit dibedakan. Choi Jina dia lahir 6
menit setelah aku lahir. Aku memiliki sifat yang cukup berbeda. Tidak seperti Jina
yang pendiam, kesehariannya hanya berpandangan dengan buku novel, manga dan
lain lain, ya walau terkadang aku tertarik membaca manga miliknya.
Tiba tiba ponselku berdering dan
kulihat layar handphone ku dan ternyata itu Kang Daesung. Dia adalah namja
chinguku yang paling tampan ^.^
“yeobeoseo”
ucapnya ketika ia tahu telepon nya sudah terhubung denganku
“ne,
ada apa chagiya?” tanyaku dengan suara penasaran
“gwenchana
chagi, kau sedang apa? Sudah makan? Aku akan kerumahmu 30 menit lagi” ucap nya
panjang lebar. Dan aku tahu dia pasti merindukanku, karena aku baru saja
selesai ujian dan yang pasti untuk beberapa hari tidak bertemu maupun
menelponnya
“ne,
aku sudah makan. Ku tunggu ya chagiya, jangan terlalu lama” ucapku memutuskan
sambungannya
Aku segera berdandan dan menyiapkan
makanan untuk kedatangan daesung kesini. Dan tidak lama kemudian ia datang
menggunakan jaket biru muda, berkaos putih dan berpenampilan tidak terlalu
rapih namun aku suka gaya stylenya.
“kau
tampan sekali chagi” ucapku mengecup dahinya
“ne,
kau juga neomu yeppeo” ia menciumku balik namun bukan dahi yang ia cium
melainkan mencium bibirku sekilas.
“ihh
kau ini, jangan menggodaku seperti ini, malu jika dilihat choi jina” ucapku
memperhatikan sekeliling rumah, apakah choi jina melihatku bermesraan dengan
daesung
Choi Jina Pov
Kenapa,
kenapa setiap aku melihat mereka bermesraan seperti itu aku selalu ingin marah,
kesal kepada jennie saudara kembarku. Aku ingin merasakan itu juga di umurku
yang sudah remaja. Namun apa boleh buat, selama 21 tahun ini aku sama sekali
belum pernah berpacaran, bermesraan seperti jennie lakukan. Aku ingin
merasakannya walaupun tidak.......
Tiba tiba lamunanku di kagetkan oleh
daesung yang sudah berdiri tepat dibelakang aku duduk.
“hei,
apakabar jina? Sudah lama kita tak bertemu.” Ucapnya lalu duduk disampingku
“ne,
gwenchana oppa. Hheemm kau pasti kangen denganku ne?” ucapku yakin
“ne,
aku kangen kau, dan jennie”
“ahh
kau ini, baru saja berapa hari tidak bertemu dengannya sudah seperti tiga tahun
tidak bertemu” ucapku cemburu
“hahaha,
itulah namanya cinta” ucapnya tersenyum dan membuat matanya yang sudah sipit
itu semakin tidak terlihat.
Walaupun aku belum pernah berpacaran,
namun aku tahu bagaimana perasaan orang yang sedang jatuh cinta sepertiku. Selama
ini tidak ada yang mengetahui siapa yang aku cintai, tidak terkecuali kakakku
choi jennie.
Hari ini kami makan siang bersama
dengan daesung oppa. Itu karena ia berkunjung kesini.
“chagi,
aku mau kau suapi aku” ucap daesung manja
“kau
ini, kau tidak malu dengan jina? Kau membuat ia iri dengan kita” ucapnya
melirikku yang sedang asyik makan tanpa memperdulikan mereka yang akan
melakukan itu didepanku.
“lakukan
saja jennie, aku tidak akan cemburu” ucapku ketus. Benar saja mereka benar
benar melakukan itu dan membuatku cemburu, segera kuselesaikan makanku agar tak
melihat mereka bermesraan seperti itu.
***
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan choi jennie, aku ikut ke
kampusnya karena aku tidak pernah kuliah sepertinya. Itu karena tubuhku yang
tidak boleh lelah, tubuhku ini terlalu rapuh untuk berada dekat dengan duniaku
yang seharusnya aku jalani. Saat pengumuman tiba, kulihat seluruh nama orang
orang yang beruntung akan kelulusannya, aku dan jennie berusaha mencari nama
nya dan ternyata benar, ia berhasil lulus dengan nilai cukup memuaskan.
“ohh
good, gomawo...” ucapnya ketika ia melihat namanya tertera didaftar kelulusan
dan akupun ikut senang, bagaimana tidak ia juga saudaraku jadi aku harus
mendukung apa yang ia mau.
“jina,
kau lihat namaku ada didaftar itu, berarti aku jadi ke paris” ucapnya kegirangan,
memelukku, mencubit gemas pipiku, ia ungkapkan kepadaku. Ya, paris adalah kota
impiannya, sejak ia kecil, jennie ingin sekali kesana dengan cara apapun
ucapnya. Dan saat inilah yang ia tunggu tunggu yaitu keberangkatan nya menuju
paris untuk mewujudkan semua impiannya. Disana ia akan menjadi seorang
desaigner hebat, karena baju yang ia buat sangatlah bagus, lihat saja, baju
yang kukenakan saat inipun adalah desaign buatannya.
“syukurlah
eonnie, kapan kau akan berangkat kesana?” ucapku dengan senyum mengembang
“aku
akan mengurus secepatnya, dan aku harus izin dengan daesung saat ini, lalu aku
ke jepang untuk bertemu umma dan appa meminta ijin padanya” terlihat dari
wajahnya yang begitu senang akan keberangkatannya. Ia mengambil handphonenya
dan menelpon eomma.
“yeoboseo...
eomma aku lulus dengan nilai memuaskan, aku juga akan ke jepang untuk mengurus
semua nya dengan umma” ucapnya tanpa membiarkan umma berbicara
“aniya,
umma saja yang pergi ke korea, kau tidak usah kesini, kami akan mengurus semua
keperluanmu untuk disana”
“baiklah
eomma, besok kan kau akan kesini?” ucapnya lega
“iya...
kalau begitu sudah dulu, kami harus menyiapkan untuk segera ke korea” ucap umma
mengakhiri pembicaraan lewat telepon
Setelah
berlama lama di kampus jennie, kamipun pulang dan benar saja dugaanku jika
sampai dirumah pasti daesung oppa sudah menunggunya.
“aku
yakin kau pasti lulus jennie” ucap daesung oppa tersenyum lebar meyakinkan
jennie
“ne,
chagiya, kau benar... kau tidak keberatankan jika aku meneruskan karirku di
paris?” ucapnya meyakinkan daesung untuk mengijinkannya melanjutkan karir nya
“ne,
aku selalu mendukungmu chagiya...” ucapnya tersenyum dan mengecup sekilas bibir
mungil jennie eonnie dihadapanku
***
Tepat
pada hari ini jennie eonnie berangkat ke kota impiannya yaitu paris, entah
kenapa ia memilih negara itu untuk negara yang kedua setelah jepang yang ia
kunjungi dan melanjutkan karirnya. Mungkin karena paris adalah kota yang indah
dan romantis.
“jina,
kau jangan rindu padaku ne? Walaupun kita jauh, namun hati kita akan selalu
dekat” ucapnya memandangiku dalam dalam berharap aku baik baik saja saat tidak
ada dia
“ne,
aku akan menjaga diriku baik baik disini...” ucapku meyankinkan bahwa aku akan
baik baik saja dalam pengawasan daesung oppa namja chingu kesayangannya yang ia
tinggalkan untuk sementara waktu.
“chagiya,
jebal jaga baik baik belahan jiwaku ini ya... tanpanya aku seperti kehilangan
segalanya” ucapnya memohon pada daesung oppa
“ne,
chagiya... aku akan berusaha” jawabnya
Setelah pulang dari bandara untuk
mengantar jennie, aku pulang bersama appa, umma, dan daesung oppa. Kami
terlihat seperti keluarga bahagia.
“jina,
kau jangan lupa minum obat. Daesung-ah jangan lupa untuk memberi vitamin
untuknya, karena itu sangat penting untuk membantu daya tahan tubuhnya” jelas
umma saat ia akan berkemas untuk kembali ke jepang karena urusan bisnisnya
“ne,
ahjumma...” jawab daesung singkat, tanda ia mengerti apa yang harus ia kerjakan
Setelah meminum obat obatan yang
selama ini masuk kedalam tubuhku aku memilih untuk berbaring pada tempat
tidurku dan tertidur disana setelah aku menuliskan diary pemberian jennie saat
ulang tahun kami beberapa bulan lalu.
Ketika aku bangun dari tidurku, aku
merasakan pusing yang amat sakit dan hebat. Kepalaku seperti dipukul oleh batu
kerikil. Aku paksakan tubuhku untuk bangun dan menuju meja makan untuk sekedar mencicipi
masakan eomma. Namun aku tidak kuat lagi dan tergelatak dilantai begitu saja.
Daesung Pov
Saat
memasuki kamar jina untuk menengoknya dan memastikan tidak ada sesuatu yang
mencemaskan. Namun kulihat jina sudah tergeletak dilantai begitu saja. Ternyata
ia pingsan, lalu langsung kubawa ia kerumah sakit untuk memastikan keadaannya
baik baik saja.
“bagaimana
keadaan jina dok?” ucapku cemas akan keadaan saudara kembar yeoja chinguku
“dia
terlalu lelah akhir akhir ini, apa yang ia lakukan?” ucap dokter bertanya
dengan tenang
“sepertinya
tidak ada aktivitas yang membebaninya dok..” ucap daesung berfikir apa yang
jina lakukan pada hari ini
“mungkin
karena ia kurang makan dan pola makan yang tidak teratur...”
“memangnya
jina sakit apa ya dok?” tanyaku tiba tiba penasaran karena aku tidak pernah tau
penyakit apa yang ia derita selama ini
“leukemia,
memangnya anda tidak pernah mengetahuinya?” tanya dokter cemas
“tidak,
karena saya tidak pernah di beritahu oleh keluarganya”
“yasudah
kalau begitu, jina istirahat yang cukup dan ia boleh pulang saat ini”
Ternyata ia menderita penyakit yang
cukup mematikan. Pantas saja jennie selalu mendahului keselamatannya.
Setelah pulang dari sini ia harus
tidur lebih banyak dan tidak boleh pergi keluar rumah.
***
Choi Jina Pov
Terdengar
dari sini cukup mengganggu tidur siangku aku terbangun dan memastikan siapa
orang yang tengah berada dengan daesung oppa saat ini. ‘siapa dia, apakah itu
chingu daesung yang berkunjung kesini?’ gumamku dan menghampiri mereka berlima.
“jina-ah,
mianhe mengganggu tidurmu. Perkenalkan ini chinguku” ucap daesung menghampiriku
ketika ia tahu bahwa aku telah bangun
“taeyang,
top, seungri” daesung oppa mengucapkan satu persatu nama chingu yang bertamu
siang ini
“itu
siapa hyung? Ia terlihat cantik saat bangun tidur” bisik seorang namja dan
tentu saja terdengar jelas olehku
“kau
ini, ketika melihat yeoja yeppeo kau langsung saja......” ucap daesung dan
langsung ditutup mulutnya oleh seungri dan seungri pun hanya tersenyum malu
padaku
“hahahaha”
tawa mereka bersamaan, aku berlalu meninggalkan mereka karena jujur aku malu,
saat mendengar ucapan namja imut itu. Dan saat mendengar ucapannya hatiku
berdegup begitu kencang seperti akan copot. ‘ada apa ini’ gumamku
Aku membuatkan beberapa minuman untuk
mereka. Seperti nya mereka baru datang karena daesung oppa sama sekali belum
membuatkan minuman untuk mereka.
“silahkan
minum... mianhe hanya ini...” ucapku membawakan beberapa kaleng softdrink
“ne,
gwenchana” ucap seseorang bernama jiyoung
“kau
mau kemana jina-ah? Sebaiknya kau disini ya?!” tanganku ditarik oleh daesung
oppa berharap aku akan gabung dengan mereka. Dan aku hanya mengangguk
mengiyakan
Hari mulai gelap dan mereka akan
segera pulang, namun tidak dengan seungri, ia meminta ijin untuk mengajakku mengobrol
ditaman belakang.
“hhmm...
kau ini saudara kembar nya jina noona?” ucap seungri memulai pembicaraan
“ne,
darimana kau tau?” ucapku polos
“hya,
aku ini temannya daesung hyung. Dan hyungku itu namja chingu saudara kembarmu
kan?” ucapnya mengerutkan alisnya
“ne,
mianhe aku lupa, sama sekali tidak ingat. Jinjja...” ucapku beraegyo didepannya
dengan menunjukkan angka dua dari jari tanganku di dekat pipi.
Seungri Pov
Yeoja ini benar benar imut dan polos, padahal saudara nya tidak sepolos
dia, dia terlalu polos. Namun dia asyiik diajak bicara dan bercanda, ia seperti
orang kesepian saja. Tapi daesung hyung pernah bilang padaku bahwa dia memang
anak yang kesepian sejak kecil, karena penyakit yang ia derita. Berarti benar,
kalau jina kesepian, seperti nya aku ingin sekali menemaninya setiap hari,
berada dekatnya setiap saat, seperti saat ini, aku tidak ingin beranjak pulang
jika sudah seperti ini, dekat dengannya membuatku terasa nyaman.
“hyaa,
waeyo?” tanyanya dan membuatku tersadar dari lamunanku
“aniya”
jawabku singkat. Aku sedang membayangkan jika aku terus berada dekat dengannya
“apa
yang kau pikirkan...?” tanyanya lagi dan membuatku berfikir untuk tidak
mengucapkan padanya kalau aku sedang memikirkannya
“aniya,
aniya. Sudah kubilang aku tidak memikirkan apapun, mungkin aku mengantuk”
elakku lagi, sebenarnya memang aku mengantuk dan hampir saja memimpikannya
namun mataku tidak menutup
“okey,
kenapa kau tidak tidur? Kau tidur saja dikamar daesung oppa” sarannya dan
membuatku bangkit menemui daesung hyung dan memintanya untuk menginap hari ini.
****
Hari
ini aku bangun lebih pagi dari biasanya, entah apa yang membuatku bangun lebih
pagi. Tiba tiba bel rumahku berbunyi bertanda ada seseorang datang kesini. Tapi
siapa yang datang bertamu sepagi ini.
“hya,
jennie-ah, bukannya kau sedang ada di paris? Apa kau sudah pulang? Kalau begitu
aku sangat senang, dirumah ini apa ada daesung?” ketika aku membukakan pintu
untuknya, banyak sekali pertanyaannya sehingga aku bingung untuk menjawabnya
“mianhe,
kau ini siapa? Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya” ucapku heran
karena aku tidak tahu dia siapa namun seperti nya aku pernah bertemu sebelumnya
tapi entah dimana
“hya,
aku ini pernah menjadi namja chingumu dulu” aku bertambah kaget ketika
mendengar namja chingu, padahal aku belum pernah sama sekali berpacaran, dekat
dengan namja pun tidak pernah tapi hanya dekat dengan daesung oppa saja
“mianhe,
aku ini jina bukan jennie, apa kau chingu nya jennie?” jelasku, dan membuatnya
tambah terheran heran dan ketika aku melihat wajahnya yang sedang kebingungan
itu membuatku ingin tertawa lepas. Lihat saja wajahnya, ia mempout kan bibir
tipisnya, dahinya yang berkerut, tangannya yang menggaruk garuk kepalanya,
sepertinya otaknya mengepul karena memikir terlalu keras hahaha
“yang
benar saja, masa iya, jennie ada dua ini tidak mungkin, selama aku berpacaran
dengan jennie dia tidak pernah bilang dia terbagi dua” ia semakin bertanya
tanya, ia tidak tahu kalau jennie eonnie punya saudara kembar
“aku
ini saudara kembarnya” ucapku singkat dan menyingkir dari pintu namun tanganku tertahan
“jinjja?
Jennie tidak pernah cerita padaku” ia memperhatikanku dari atas hingga bawah
seperti orang yang tidak percaya akan ucapanku
“yasudah
kalau kau tidak percaya” aku lelah berbicara dengannya
“ne,
aku percaya, kukira kau jennie, padahal aku ingin mengajakmu pergi ke taman”
“jina,
siapa yang datang? Aku mendengarnya daritadi” teriak daesung oppa
“sebaiknya
kau kesini oppa, aku tidak mengenalnya”
“ne,
jakkeuman...” ucapnya menghampiriku dan namja aneh ini
“sebaiknya
kau berbicara saja dengan daesung oppa, aku tidak tahu urusan kalian dan aku
tidak mau tahu, araseo?” ucapku pergi masuk ke ruang tamu
“jina-ah,
dia ini jiyoung dan.....” ucapannya terpotong
“dan
ia pernah menjadi namja chingunya jennie eonnie, apakah benar oppa?” ucapku
penasaran
“hah?
Sejak kapan hyung? Aku berpacaran dengannya sejak lama, jangan jangan” mata
daesung oppa menatap tajam kearah namja aneh itu dan terlihat wajahnya cemas
serta berkeringat seperti orang ketakutan
“aniyo,
aku tidak pernah berpacaran dengannya, aku hanya membohongi yeoja itu” lalu ia
menunjuk ke arahku, sepertinya ia sedang berbohong.
“jinjja?
Hyung, kenapa kau tidak datang kemarin?” tanya daesung oppa dan sepertinya mareka
akan berbincang bincang lebih lama dan membuatku bosan. Aku pergi ke atas dan
bertemu dengan seungri.
“hya,
kau mau kemana?” tanyanya heran
“aku
akan tidur kembali” jawabku malas
“dan
yang sedang mengobrol dengan daesung hyung itu siapa?” tanya seungri heran
ketika ia tahu kalau ada seseorang yang bertamu pagi ini
“sebaiknya
kau tanya, karena aku malas mengucapkan nama nya”
“kau
ini” tangan nya mendarat di kepalaku
“ahh
itai (sakit)..” ucapku menggunakan sedikit kemampuanku dalam bahasa jepang dan
pergi meninggalkannya karena aku sudah bosan dengan semua orang disini
“hya,
kajima.. sebaiknya kau tidak usah tidur, kau mau tidak jalan jalan keluar
denganku?” ucapnya menahan tanganku yang hendak pergi kekamar
“ne”
jawabku singkat dan langsung pergi tanpa sepengetahuan daesung oppa.
Saat sampai ditempat tujuan yaitu
taman yang indah dan tidak jauh dari rumahku karena aku tidak boleh terlalu
lelah.
“apakau
tau sebenarnya aku menyukaimu?” ucapnya membuka pembicaraan dan sontak aku
langsung tidak percaya apa yang diucapkannya itu
“jinjja?
Ahh selama aku hidup belum pernah ada namja yang mencintaiku apa adanya, aku
hanya bisa menyukai namja namun tidak sebaliknya, itu yang aku rasakan” jawabku
tidak percaya dan meneteskan air mata dan menarik napas dalam dalam
“ne,
sebenarnya aku suka padamu saat melihatmu pertama kali” ucapnya menghapus air
mataku yang jatuh tidak begitu deras
“itu
baru dua hari yang lalu, kenapa kau bisa tertarik padaku?” ucapku
“aniyo.
Bukan kemarin, waktu aku mengunjungi rumahmu saat aku akan bermain dengan
jennie dan yang lainnya aku melihatmu sedang mengintip dari jendela kamarmu dan
jennie noona pun pernah bercerita padaku kalau dia punya saudara kembar
sepertimu...” jelasnya panjang dan membuatku hampir ingin menangis lagi, kenapa
saat ini aku sering menangis?
“aku
tidak diperbolehkan keluar untuk waktu yang lama waktu itu, jadi aku diam
dikamar saja” ucapku yang tidak nyambung
“dan
kau tau, ketika jennie menceritakan semuanya? Dia menangis, apalagi saat ia
cerita tentang kesehatanmu dan ia takut kehilanganmu. Dia juga pernah tidak
sengaja membaca buku harianmu katanya, kau ingin sekali memiliki namja yang
benar mencintaimu, kau iri akan saudaramu yang begitu bebas menikmati indahnya
dunia ini, bebas bermain sesukanya dengan siapapun. Sedangkan kau selalu
dirumah memandangi seisi kamarmu yang itu itu saja, kesepian tidak ada teman
hanya ada beberapa boneka yang menemanimu setiap hari” jelasnya panjang dan
kali ini ia pun ikut menangis apalagi aku tidak dapat menahan air mataku lagi
“berarti
kau mencintaiku hanya kasihan padaku akan keadaanku saat ini?” ucapku yang
terus menangis
“bukan
itu yang aku maksud. Aku ingin menjadi yang pertama mencintaimu sepenuhnya”
ucapnya dan menatap mataku tajam, akupun hanya bisa menatapnya juga. Ia semakin
mendekatkan wajahnya kepadaku, semakin dekat namun aku tidak tahu apa yang akan
ia lakukan padaku. Nafas nya sudah terasa saat ini jaraknya tidak ada satu
centi.
‘I love you baby im not a monster’ terdengar nada dering dari handphonenya namun ia tidak perduli sama sekali dan tidak menjauh
dariku dan aku tidak bisa berbuat apa apa lagi, tubuhku bergetar, jantungku
berdetak tidak karuan. Tiba tiba ia mendaratkan bibirnya dibibirku sontak saja
mataku langsung melotot karena belum ada satupun namja yang mencium bibirku
ini.
Flashback
“jina-ah
kau ini kemana? Kau tidak membawa handphone, kau tidak membawa apa apa, dan kau
pergi dengan siapa?” itu lah yang dari tadi daesung ucapkan, ia panik ketika
melihat kamar jina dan ternyata jina tidak ada didalam kamar
“dirumahmu
ada siapa tadi? Seperti nya ada seseorang” ucap jiyoung yang ternyata
mengingatkan daesung untuk menelpon seungri
“hya,
dia ini kemana, teleponnya saja tidak diangkat angkat” ia bertambah panik
bagaimana tidak, orang yang dititipkan oleh yeoja kesayangannya pergi entah
kemana
“coba
aku yang menghubungi seungri” ucap jiyoung langsung mengeluarkan handphonenya
dan mencoba menghubungi seungri. Namun hasilnya nihil padahal ia sudah berkali
kali menelponnya.
Flashbak end
Seungri pov
Saat
aku berciuman dengan jina, tiba tiba ada cairan yang keluar dari hidungnya, aku
pun langsung melepas bibirku dan melihat bibirnya berlumuran darah dari
hidungnya dan aku panik. Aku tidak tahu dia kenapa
“gwenchanayo
jina? Aku terkejut melihatmu” ucap seungri menangis. Tubuh jina lemas tidak
dapat berbicara, namun aku melihat ia menahan rasa sakit yang ia derita. Aku
langsung mengambil telepon genggamku dan melihat sudah 30 panggilan tak terjawab
dari daesung hyung dan 10 dari jiyoung hyung.
“hyung,
cepat kau ketaman, aku dan jina sedang berada disini dan wajah jina pucat serta
hidungnya mengeluarkan darah. Ppali hyung ppali...” aku menelpon hyung. Aku
tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tanganku pun sudah banyak berlumur
darah. Tiba tiba jina jatuh pingsan. Daesung dan jiyoung hyung cepat datang
kesini dan terlihat wajah dari keduanya panik aku juga cemas akan keadaan jina
“aku
sudah pernah mengatakannya bukan? Kalau jina tidak boleh keluar” ucap daesung
hyung kesal serta panik. Kami langsung membawa jina kerumah sakit
Aku hanya terdiam menyenderkan tubuhku didinding rumah sakit. entah apa
yang telah aku lakukan itu sehingga membuatnya seperti ini, aku sudah
membuatnya menderita. ‘andai saja tadi aku tidak mengajakmu keluar, kau tidak
akan begini’ gumamku.
Tiba tiba dokter yang menangani jina
keluar dari ruangannya.
“keadaan
jina kritis. Ia begitu lemas dan pucat. Apa yang ia lakukan tadi?” tanya dokter
dan daesung langsung menoleh kearahku sehingga aku pun menunduk karena aku tahu
daesung akan memarahiku lagi
“ia
hanya terlalu lelah, dan ia sudah sering mengalami ini setiap hari?” sambung
dokter
“aniyo,
sepertinya tidak pernah” ucap daesung berfikir
“mungkin
kau tidak memeriksa keadaannya dikamar jadi kau tidak tahu dan yang aku teliti
ia sering mengalami nya setiap jam 10 pagi namun ini yang paling parah sehingga
membuat dia koma” jelas dokter
“apa?
Koma? Kenapa bisa sampai seperti ini?”
“ia
kekurangan banyak darah dan harus segera di donorkan namun golongan darahnya
begitu langka” jelas dokter lagi dan langsung pergi meninggalkan kami
“suruh
jennie kesini daesung-ah” ucap jiyoung hyung memberi saran kepada daesung
“nanti
ia akan panik” ucap daesung yang tidak terlalu setuju karena ia tahu jennie
disana sedang sibuk
“daripada
ia kehabisan darah lebih banyak nanti akan berakibat fatal lebih baik jennie
meluangkan waktunya untuk belahan jiwanya” saran jiyoung yang langsung disetujui
daesung hyung
Daesung hyung langsung menelpon jennie
dan begitu jennie tahu keadaan jina parah ia langsung pergi kekorea, padahal
dari kota paris kesini begitu jauh namun mungkin jennie tidak perduli seberapa
jauh dan lamanya perjalanan yang terpenting nyawa jina harus selamat
“hyung,
mianhe jeongmal mianhe ini semua salahku” ucapku meminta maaf pada daesung
hyung namun daesung hyung hanya terdiam dengan yang aku ucapkan mungkin ia
masih kesal denganku
***
Keesokkannya
jennie datang dari paris dan langsung mendonorkan darahnya untuk jina. Sehabis
itu keadaan jina lebih baik dan yang lebih membuatku tersenyum senang ia sudah
sadar. Akupun meminta maaf padanya
“jina,
mianhe jinjja mianhe, gara gara aku kau jadi seperti ini”
“gwenchana...
kau lihat aku sudah tidak apa dan ini juga bukan salahmu” ucap jina menghapus
air mataku yang mengalir
“saranghae
jina, jinjja saranghae...” ucap ku mengecup keningnya begitu dalam
“nado
saranghae oppa, kau adalah namja yang mengucapkan itu pertama kali padaku...
sehingga aku tidak lagi merasa aku berbeda dengan jennie” ucap jina memegang
erat kedua tanganku. Wajahnya yang dulu sangat imut, cerah dan semangat
walaupun ia menderita tapi sekarang wajahnya pucat seperti kehilangan semangat
walaupun ia membaik namun masih terlihat pucat
Jennie pov
Setelah
jina sadar dari komanya, ia sudah dapat makan tapi wajahnya masih terlihat
pucat. Ia memanggilku untuk memasuki kamar nya dan tidak boleh ada yang ikut
bersamaku untuk menemuinya
“jennie,
kau jangan menangis, gwenchana” ucapnya karena baru saja aku memasukinya aku
sudah mengeluarkan air mata begitu deras entah apa yang aku tangisi padahal
keadaannya sudah cukup membaik saat ini
“ne,
tidak lagi” ucapku menghapus air mataku meyakinkan bahwa aku tidak akan menangisinya
lagi
“jennie,
ternyata kau membaca diaryku secara diam ya?” ucapnya membuatku kaget darimana
ia tahu kalau aku pernah membacanya
“mianhe
jina, aku hanya ingin mengetahui perasaanmu lebih dalam. Dan ternyata gara gara
penyakitmu batinmu juga sakit. Kau kesepian saat aku pergi sekolah kan? Padahal
aku ingin menemanimu setiap hari” jelasku dan langsung mengeluarkan air mata
begitu deras dari sebelumnya
“tak
apa jennie, kau boleh membacanya kembali setelah aku pulang dan masih ada satu
buku lagi di lemariku karena aku menulis terlalu banyak jadi tidak cukup selama
21 tahun ini” ucap jina yang terbaring lemas lengkap dengan peralatan dokter
ditubuhnya
“waeyo?”
tanyaku singkat, tidak mengerti akan maksud nya
“agar
kau memahami lebih dalam perasaanku... dan kau jangan pergi meninggalkan
daesung oppa sendirian nanti ya. Bawa dia jika kau akan kembali ke paris”
“daesung
ditemani kau jina, jadi dia tidak akan sendirian”
“andwae”
ucapnya menarik napas dalam dan begitu membuang napas nya kepalanya langsung
terjatuh lemas di bantal yang ia pakai saat ini, ia tidak sadarkan diri dan aku
langsung menangis sejadi jadinya. Aku keluar dari ruangan dan langsung
memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Setelah diperiksa, ternyata jina
sudah tiada ia sudah pergi untuk selamanya meninggalkanku dan seluruhnya. Aku
langsung keluar memeluk erat tubuh daesung
“jina
sudah tiada chagi” aku langsung menangis ketika mengucapkan itu dan membuat
semuanya tidak percaya padahal ia sudah sehat lebih dari biasanya, tapi kenapa
ketika ia sehat ia harus pergi begitu cepat. Mungkin tuhan memberinya
kesempatan untuk merasakan kenikmatan hidupnya walaupun secepat kilat.
“jinjja?”
tanya seungri padaku karena aku tahu seungri mencintainya
“ne,
aku tahu pasti kau sangat sakit, aku lebih sakit, jiwaku seperti hilang
setengah ternyata ucapanya itu adalah pesan terakhirnya”
“apa
yang ia katakan?” tanya seungri lagi
“ia
mengatakan kalau aku disuruh baca kembali seluruh buku hariannya itu dan tidak
boleh meninggalkan daesung sendirian jika aku kembali ke paris” jelasku tidak
berhenti menangis
“tidak
ada pesan untukku?” ucap seungri penasaran
“aniiya,
sebaiknya kita baca dulu bukunya dan kita akan tahu semua perasaannya” ucapku
memberi saran.
***
Hari ini aku, daesung, seungri, top, jiyoung, taeyang serta umma dan appa
mengantarkan jasad jina ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku tidak
berhenti menangis dan tidak percaya akan kepergiannya yang begitu cepat. Dan
sekarang aku sudah tidak punya belahan jiwaku lagi karena sejak kecil kami
selalu bersama walaupun aku lebih beruntung dari nya namun aku tetap
menyayanginya untuk selamanya.
“sudah
kau jangan menangis seperti ini, kalau kau terus begini, ia tidak akan tenang
disana” ucap taeyang oppa menepuk bahuku pelan dan membawaku pergi dari tempat
terakhir jina
Ketika sampai dirumah aku langsung
masuk kekamar jina. Melihat isi kamarnya yang begitu bersih, tertata rapih
seluruh barang barang nya
“dia
belum pulang ketika aku ajak dia ke taman untuk terakhir kalinya dan aku
mengungkapkan seluruh perasaanku padanya” ucap seungri menghampiriku tiba tiba,
aku tahu kalau ia ingin sekali ikut membacanya.
Aku buka perlahan dengan tangan
bergetar dan meneteskan air mata begitu deras sehingga hampir membasahi buku
hariannya
Setelah membacanya aku tersadar bahwa sebenarnya ia menyukai daesung oppa
sedari dulu sebelum aku berpacaran dengannya, karena daesung adalah namja yang
ia temui saat membeli buku ini di toko buku dan kenal cukup dekat tapi kenapa
aku yang malah memilikinya bukan dia. Setelah ia tidak begitu mencintai daesung
dan ia sadar bahwa daesung tidak mencintainya melainkan hanya menganggapnya
sebatas adik kakak ia menaruh perasaannya kepada seungri saat aku membawanya
kerumah bersama jiyoung, taeyang dan seunghyu oppa. Dan ia tidak mau menaruh
perasaan lebih padanya karena ia takut kalau cintanya tak terbalas lagi. Tapi
kenapa ketika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi ketika mencintai
seungri ia malah meninggalkan cintanya itu tanpa merasakannya lebih lama...
“kenapa aku tidak peka terhadapnya? Aku menyesal sekali” ucapku pada
seungri dan ia pun menangis karena baru saja ia dekat dengan jina namun sudah
ditinggalkan olehnya untuk selamanya namun ia yakin cintanya akan dibawa mati
olehnya...
Dari kecil, aku memang lebih beruntung darinya buktinya aku tidak punya
penyakit mematikan sepertinya. Aku dapat bersekolah di sekolah yang aku
inginkan, sedangkan dia hanya homeschooling karena tubuhnya yang lemah dan
menderita penyakit yang tidak aku ketahui selain leukemia yang ia derita. Aku
dapat meneruskan kuliah sehabis high school namun jina tidak. Aku dapat
meneruskan karirku walapun hanya kuliah sebentar sedangkan ia hanya berkutik
pada buku buku yang ia kumpulkan dikamarnya. Sampai namja yang seharusnya ia
miliki malah menjadi milikku. Aku merasa semua kebahagiaannya telah aku rebut
sepenuhnya. Aku sangat merasa bersalah.
“im always love you jina” ucap seungri menggunakan bahasa inggris walaupun
tidak terlalu fasih mengucapkannya.
“saranghae jina... i will love you always dan forever” ucapku menitikkan
air mata
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar