Senin, 05 November 2012

(Fanfiction) Always Love You


Always Love you
Fanfiction
Genre              : Romance
Author             : Hasna Naurah
Cast                 :
   Choi Jina          (Original Cast)
   Choi jennie      (Original Cast)

Member bigbang:
   Kang Dae Sung
   Lee Seung hyun a.k.a (seungri)
   Kwon jiyoung (jiyoung)
   Do Young Bae (Taeyang)
   Choi seung hyun (T.O.P)



“kau yakin akan melanjutkan kuliahmu di paris nanti jika sudah lulus?” tanyaku begitu penasaran padahal aku telah menanyakan itu berkali kali
            “sepertinya pertanyaan yang kau tanya sudah kau ucapkan ribuan kali padaku” ucapnya memandangi buku yang sedang ia baca dan mengobrol denganku.
            “aku hanya meyakinkan, lagipula disini aku dengan siapa?” ucapnya tiba tiba memasang wajah sedih akan kehilanganku.
            “Choi Jina, jika aku pergi ke paris kau juga akan ke jepang untuk bertemu umma dan appa” ucapku sambil terus membujuknya agar aku diijinkan pergi ke paris jika lulus kuliah nanti
            Aku memiliki saudara kembar yang cukup manis dan cantik sepertiku, ya itu karena aku dan dia mirip sekali sehingga cukup sulit dibedakan. Choi Jina dia lahir 6 menit setelah aku lahir. Aku memiliki sifat yang cukup berbeda. Tidak seperti Jina yang pendiam, kesehariannya hanya berpandangan dengan buku novel, manga dan lain lain, ya walau terkadang aku tertarik membaca manga miliknya.
Tiba tiba ponselku berdering dan kulihat layar handphone ku dan ternyata itu Kang Daesung. Dia adalah namja chinguku yang paling tampan ^.^
            “yeobeoseo” ucapnya ketika ia tahu telepon nya sudah terhubung denganku
            “ne, ada apa chagiya?” tanyaku dengan suara penasaran
            “gwenchana chagi, kau sedang apa? Sudah makan? Aku akan kerumahmu 30 menit lagi” ucap nya panjang lebar. Dan aku tahu dia pasti merindukanku, karena aku baru saja selesai ujian dan yang pasti untuk beberapa hari tidak bertemu maupun menelponnya
            “ne, aku sudah makan. Ku tunggu ya chagiya, jangan terlalu lama” ucapku memutuskan sambungannya
Aku segera berdandan dan menyiapkan makanan untuk kedatangan daesung kesini. Dan tidak lama kemudian ia datang menggunakan jaket biru muda, berkaos putih dan berpenampilan tidak terlalu rapih namun aku suka gaya stylenya.
            “kau tampan sekali chagi” ucapku mengecup dahinya
            “ne, kau juga neomu yeppeo” ia menciumku balik namun bukan dahi yang ia cium melainkan mencium bibirku sekilas.
            “ihh kau ini, jangan menggodaku seperti ini, malu jika dilihat choi jina” ucapku memperhatikan sekeliling rumah, apakah choi jina melihatku bermesraan dengan daesung
Choi Jina Pov
            Kenapa, kenapa setiap aku melihat mereka bermesraan seperti itu aku selalu ingin marah, kesal kepada jennie saudara kembarku. Aku ingin merasakan itu juga di umurku yang sudah remaja. Namun apa boleh buat, selama 21 tahun ini aku sama sekali belum pernah berpacaran, bermesraan seperti jennie lakukan. Aku ingin merasakannya walaupun tidak.......
Tiba tiba lamunanku di kagetkan oleh daesung yang sudah berdiri tepat dibelakang aku duduk.
            “hei, apakabar jina? Sudah lama kita tak bertemu.” Ucapnya lalu duduk disampingku
            “ne, gwenchana oppa. Hheemm kau pasti kangen denganku ne?” ucapku yakin
            “ne, aku kangen kau, dan jennie”
            “ahh kau ini, baru saja berapa hari tidak bertemu dengannya sudah seperti tiga tahun tidak bertemu” ucapku cemburu
            “hahaha, itulah namanya cinta” ucapnya tersenyum dan membuat matanya yang sudah sipit itu semakin tidak terlihat.
Walaupun aku belum pernah berpacaran, namun aku tahu bagaimana perasaan orang yang sedang jatuh cinta sepertiku. Selama ini tidak ada yang mengetahui siapa yang aku cintai, tidak terkecuali kakakku choi jennie.
Hari ini kami makan siang bersama dengan daesung oppa. Itu karena ia berkunjung kesini.
            “chagi, aku mau kau suapi aku” ucap daesung manja
            “kau ini, kau tidak malu dengan jina? Kau membuat ia iri dengan kita” ucapnya melirikku yang sedang asyik makan tanpa memperdulikan mereka yang akan melakukan itu didepanku.
            “lakukan saja jennie, aku tidak akan cemburu” ucapku ketus. Benar saja mereka benar benar melakukan itu dan membuatku cemburu, segera kuselesaikan makanku agar tak melihat mereka bermesraan seperti itu.
***
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan choi jennie, aku ikut ke kampusnya karena aku tidak pernah kuliah sepertinya. Itu karena tubuhku yang tidak boleh lelah, tubuhku ini terlalu rapuh untuk berada dekat dengan duniaku yang seharusnya aku jalani. Saat pengumuman tiba, kulihat seluruh nama orang orang yang beruntung akan kelulusannya, aku dan jennie berusaha mencari nama nya dan ternyata benar, ia berhasil lulus dengan nilai cukup memuaskan.
            “ohh good, gomawo...” ucapnya ketika ia melihat namanya tertera didaftar kelulusan dan akupun ikut senang, bagaimana tidak ia juga saudaraku jadi aku harus mendukung apa yang ia mau.
            “jina, kau lihat namaku ada didaftar itu, berarti aku jadi ke paris” ucapnya kegirangan, memelukku, mencubit gemas pipiku, ia ungkapkan kepadaku. Ya, paris adalah kota impiannya, sejak ia kecil, jennie ingin sekali kesana dengan cara apapun ucapnya. Dan saat inilah yang ia tunggu tunggu yaitu keberangkatan nya menuju paris untuk mewujudkan semua impiannya. Disana ia akan menjadi seorang desaigner hebat, karena baju yang ia buat sangatlah bagus, lihat saja, baju yang kukenakan saat inipun adalah desaign buatannya.
            “syukurlah eonnie, kapan kau akan berangkat kesana?” ucapku dengan senyum mengembang
            “aku akan mengurus secepatnya, dan aku harus izin dengan daesung saat ini, lalu aku ke jepang untuk bertemu umma dan appa meminta ijin padanya” terlihat dari wajahnya yang begitu senang akan keberangkatannya. Ia mengambil handphonenya dan menelpon eomma.
            “yeoboseo... eomma aku lulus dengan nilai memuaskan, aku juga akan ke jepang untuk mengurus semua nya dengan umma” ucapnya tanpa membiarkan umma berbicara
            “aniya, umma saja yang pergi ke korea, kau tidak usah kesini, kami akan mengurus semua keperluanmu untuk disana”
            “baiklah eomma, besok kan kau akan kesini?” ucapnya lega
            “iya... kalau begitu sudah dulu, kami harus menyiapkan untuk segera ke korea” ucap umma mengakhiri pembicaraan lewat telepon

            Setelah berlama lama di kampus jennie, kamipun pulang dan benar saja dugaanku jika sampai dirumah pasti daesung oppa sudah menunggunya.
            “aku yakin kau pasti lulus jennie” ucap daesung oppa tersenyum lebar meyakinkan jennie
            “ne, chagiya, kau benar... kau tidak keberatankan jika aku meneruskan karirku di paris?” ucapnya meyakinkan daesung untuk mengijinkannya melanjutkan karir nya
            “ne, aku selalu mendukungmu chagiya...” ucapnya tersenyum dan mengecup sekilas bibir mungil jennie eonnie dihadapanku
***

            Tepat pada hari ini jennie eonnie berangkat ke kota impiannya yaitu paris, entah kenapa ia memilih negara itu untuk negara yang kedua setelah jepang yang ia kunjungi dan melanjutkan karirnya. Mungkin karena paris adalah kota yang indah dan romantis.
            “jina, kau jangan rindu padaku ne? Walaupun kita jauh, namun hati kita akan selalu dekat” ucapnya memandangiku dalam dalam berharap aku baik baik saja saat tidak ada dia
            “ne, aku akan menjaga diriku baik baik disini...” ucapku meyankinkan bahwa aku akan baik baik saja dalam pengawasan daesung oppa namja chingu kesayangannya yang ia tinggalkan untuk sementara waktu.
            “chagiya, jebal jaga baik baik belahan jiwaku ini ya... tanpanya aku seperti kehilangan segalanya” ucapnya memohon pada daesung oppa
            “ne, chagiya... aku akan berusaha” jawabnya
Setelah pulang dari bandara untuk mengantar jennie, aku pulang bersama appa, umma, dan daesung oppa. Kami terlihat seperti keluarga bahagia.
            “jina, kau jangan lupa minum obat. Daesung-ah jangan lupa untuk memberi vitamin untuknya, karena itu sangat penting untuk membantu daya tahan tubuhnya” jelas umma saat ia akan berkemas untuk kembali ke jepang karena urusan bisnisnya
            “ne, ahjumma...” jawab daesung singkat, tanda ia mengerti apa yang harus ia kerjakan
Setelah meminum obat obatan yang selama ini masuk kedalam tubuhku aku memilih untuk berbaring pada tempat tidurku dan tertidur disana setelah aku menuliskan diary pemberian jennie saat ulang tahun kami beberapa bulan lalu.
Ketika aku bangun dari tidurku, aku merasakan pusing yang amat sakit dan hebat. Kepalaku seperti dipukul oleh batu kerikil. Aku paksakan tubuhku untuk bangun dan menuju meja makan untuk sekedar mencicipi masakan eomma. Namun aku tidak kuat lagi dan tergelatak dilantai begitu saja.
Daesung Pov
            Saat memasuki kamar jina untuk menengoknya dan memastikan tidak ada sesuatu yang mencemaskan. Namun kulihat jina sudah tergeletak dilantai begitu saja. Ternyata ia pingsan, lalu langsung kubawa ia kerumah sakit untuk memastikan keadaannya baik baik saja.
            “bagaimana keadaan jina dok?” ucapku cemas akan keadaan saudara kembar yeoja chinguku
            “dia terlalu lelah akhir akhir ini, apa yang ia lakukan?” ucap dokter bertanya dengan tenang
            “sepertinya tidak ada aktivitas yang membebaninya dok..” ucap daesung berfikir apa yang jina lakukan pada hari ini
            “mungkin karena ia kurang makan dan pola makan yang tidak teratur...”
            “memangnya jina sakit apa ya dok?” tanyaku tiba tiba penasaran karena aku tidak pernah tau penyakit apa yang ia derita selama ini
            “leukemia, memangnya anda tidak pernah mengetahuinya?” tanya dokter cemas
            “tidak, karena saya tidak pernah di beritahu oleh keluarganya”
            “yasudah kalau begitu, jina istirahat yang cukup dan ia boleh pulang saat ini”

Ternyata ia menderita penyakit yang cukup mematikan. Pantas saja jennie selalu mendahului keselamatannya.
Setelah pulang dari sini ia harus tidur lebih banyak dan tidak boleh pergi keluar rumah.
***
Choi Jina Pov
            Terdengar dari sini cukup mengganggu tidur siangku aku terbangun dan memastikan siapa orang yang tengah berada dengan daesung oppa saat ini. ‘siapa dia, apakah itu chingu daesung yang berkunjung kesini?’ gumamku dan menghampiri mereka berlima.
            “jina-ah, mianhe mengganggu tidurmu. Perkenalkan ini chinguku” ucap daesung menghampiriku ketika ia tahu bahwa aku telah bangun
            “taeyang, top, seungri” daesung oppa mengucapkan satu persatu nama chingu yang bertamu siang ini
            “itu siapa hyung? Ia terlihat cantik saat bangun tidur” bisik seorang namja dan tentu saja terdengar jelas olehku
            “kau ini, ketika melihat yeoja yeppeo kau langsung saja......” ucap daesung dan langsung ditutup mulutnya oleh seungri dan seungri pun hanya tersenyum malu padaku
            “hahahaha” tawa mereka bersamaan, aku berlalu meninggalkan mereka karena jujur aku malu, saat mendengar ucapan namja imut itu. Dan saat mendengar ucapannya hatiku berdegup begitu kencang seperti akan copot. ‘ada apa ini’ gumamku
Aku membuatkan beberapa minuman untuk mereka. Seperti nya mereka baru datang karena daesung oppa sama sekali belum membuatkan minuman untuk mereka.
            “silahkan minum... mianhe hanya ini...” ucapku membawakan beberapa kaleng softdrink
            “ne, gwenchana” ucap seseorang bernama jiyoung
            “kau mau kemana jina-ah? Sebaiknya kau disini ya?!” tanganku ditarik oleh daesung oppa berharap aku akan gabung dengan mereka. Dan aku hanya mengangguk mengiyakan
Hari mulai gelap dan mereka akan segera pulang, namun tidak dengan seungri, ia meminta ijin untuk mengajakku mengobrol ditaman belakang.
            “hhmm... kau ini saudara kembar nya jina noona?” ucap seungri memulai pembicaraan
            “ne, darimana kau tau?” ucapku polos
            “hya, aku ini temannya daesung hyung. Dan hyungku itu namja chingu saudara kembarmu kan?” ucapnya mengerutkan alisnya
            “ne, mianhe aku lupa, sama sekali tidak ingat. Jinjja...” ucapku beraegyo didepannya dengan menunjukkan angka dua dari jari tanganku di dekat pipi.


Seungri Pov
Yeoja ini benar benar imut dan polos, padahal saudara nya tidak sepolos dia, dia terlalu polos. Namun dia asyiik diajak bicara dan bercanda, ia seperti orang kesepian saja. Tapi daesung hyung pernah bilang padaku bahwa dia memang anak yang kesepian sejak kecil, karena penyakit yang ia derita. Berarti benar, kalau jina kesepian, seperti nya aku ingin sekali menemaninya setiap hari, berada dekatnya setiap saat, seperti saat ini, aku tidak ingin beranjak pulang jika sudah seperti ini, dekat dengannya membuatku terasa nyaman.
            “hyaa, waeyo?” tanyanya dan membuatku tersadar dari lamunanku
            “aniya” jawabku singkat. Aku sedang membayangkan jika aku terus berada dekat dengannya
            “apa yang kau pikirkan...?” tanyanya lagi dan membuatku berfikir untuk tidak mengucapkan padanya kalau aku sedang memikirkannya
            “aniya, aniya. Sudah kubilang aku tidak memikirkan apapun, mungkin aku mengantuk” elakku lagi, sebenarnya memang aku mengantuk dan hampir saja memimpikannya namun mataku tidak menutup
            “okey, kenapa kau tidak tidur? Kau tidur saja dikamar daesung oppa” sarannya dan membuatku bangkit menemui daesung hyung dan memintanya untuk menginap hari ini.
****
            Hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya, entah apa yang membuatku bangun lebih pagi. Tiba tiba bel rumahku berbunyi bertanda ada seseorang datang kesini. Tapi siapa yang datang bertamu sepagi ini.
            “hya, jennie-ah, bukannya kau sedang ada di paris? Apa kau sudah pulang? Kalau begitu aku sangat senang, dirumah ini apa ada daesung?” ketika aku membukakan pintu untuknya, banyak sekali pertanyaannya sehingga aku bingung untuk menjawabnya
            “mianhe, kau ini siapa? Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya” ucapku heran karena aku tidak tahu dia siapa namun seperti nya aku pernah bertemu sebelumnya tapi entah dimana
           “hya, aku ini pernah menjadi namja chingumu dulu” aku bertambah kaget ketika mendengar namja chingu, padahal aku belum pernah sama sekali berpacaran, dekat dengan namja pun tidak pernah tapi hanya dekat dengan daesung oppa saja
            “mianhe, aku ini jina bukan jennie, apa kau chingu nya jennie?” jelasku, dan membuatnya tambah terheran heran dan ketika aku melihat wajahnya yang sedang kebingungan itu membuatku ingin tertawa lepas. Lihat saja wajahnya, ia mempout kan bibir tipisnya, dahinya yang berkerut, tangannya yang menggaruk garuk kepalanya, sepertinya otaknya mengepul karena memikir terlalu keras hahaha
            “yang benar saja, masa iya, jennie ada dua ini tidak mungkin, selama aku berpacaran dengan jennie dia tidak pernah bilang dia terbagi dua” ia semakin bertanya tanya, ia tidak tahu kalau jennie eonnie punya saudara kembar
            “aku ini saudara kembarnya” ucapku singkat dan menyingkir dari pintu namun tanganku tertahan
            “jinjja? Jennie tidak pernah cerita padaku” ia memperhatikanku dari atas hingga bawah seperti orang yang tidak percaya akan ucapanku
            “yasudah kalau kau tidak percaya” aku lelah berbicara dengannya
            “ne, aku percaya, kukira kau jennie, padahal aku ingin mengajakmu pergi ke taman”
            “jina, siapa yang datang? Aku mendengarnya daritadi” teriak daesung oppa
            “sebaiknya kau kesini oppa, aku tidak mengenalnya”
            “ne, jakkeuman...” ucapnya menghampiriku dan namja aneh ini
            “sebaiknya kau berbicara saja dengan daesung oppa, aku tidak tahu urusan kalian dan aku tidak mau tahu, araseo?” ucapku pergi masuk ke ruang tamu
            “jina-ah, dia ini jiyoung dan.....” ucapannya terpotong
            “dan ia pernah menjadi namja chingunya jennie eonnie, apakah benar oppa?” ucapku penasaran
            “hah? Sejak kapan hyung? Aku berpacaran dengannya sejak lama, jangan jangan” mata daesung oppa menatap tajam kearah namja aneh itu dan terlihat wajahnya cemas serta berkeringat seperti orang ketakutan
            “aniyo, aku tidak pernah berpacaran dengannya, aku hanya membohongi yeoja itu” lalu ia menunjuk ke arahku, sepertinya ia sedang berbohong.
            “jinjja? Hyung, kenapa kau tidak datang kemarin?” tanya daesung oppa dan sepertinya mareka akan berbincang bincang lebih lama dan membuatku bosan. Aku pergi ke atas dan bertemu dengan seungri.
            “hya, kau mau kemana?” tanyanya heran
            “aku akan tidur kembali” jawabku malas
            “dan yang sedang mengobrol dengan daesung hyung itu siapa?” tanya seungri heran ketika ia tahu kalau ada seseorang yang bertamu pagi ini
            “sebaiknya kau tanya, karena aku malas mengucapkan nama nya”
            “kau ini” tangan nya mendarat di kepalaku
            “ahh itai (sakit)..” ucapku menggunakan sedikit kemampuanku dalam bahasa jepang dan pergi meninggalkannya karena aku sudah bosan dengan semua orang disini
            “hya, kajima.. sebaiknya kau tidak usah tidur, kau mau tidak jalan jalan keluar denganku?” ucapnya menahan tanganku yang hendak pergi kekamar
            “ne” jawabku singkat dan langsung pergi tanpa sepengetahuan daesung oppa.
Saat sampai ditempat tujuan yaitu taman yang indah dan tidak jauh dari rumahku karena aku tidak boleh terlalu lelah.
            “apakau tau sebenarnya aku menyukaimu?” ucapnya membuka pembicaraan dan sontak aku langsung tidak percaya apa yang diucapkannya itu
            “jinjja? Ahh selama aku hidup belum pernah ada namja yang mencintaiku apa adanya, aku hanya bisa menyukai namja namun tidak sebaliknya, itu yang aku rasakan” jawabku tidak percaya dan meneteskan air mata dan menarik napas dalam dalam
            “ne, sebenarnya aku suka padamu saat melihatmu pertama kali” ucapnya menghapus air mataku yang jatuh tidak begitu deras
            “itu baru dua hari yang lalu, kenapa kau bisa tertarik padaku?” ucapku
            “aniyo. Bukan kemarin, waktu aku mengunjungi rumahmu saat aku akan bermain dengan jennie dan yang lainnya aku melihatmu sedang mengintip dari jendela kamarmu dan jennie noona pun pernah bercerita padaku kalau dia punya saudara kembar sepertimu...” jelasnya panjang dan membuatku hampir ingin menangis lagi, kenapa saat ini aku sering menangis?
            “aku tidak diperbolehkan keluar untuk waktu yang lama waktu itu, jadi aku diam dikamar saja” ucapku yang tidak nyambung
            “dan kau tau, ketika jennie menceritakan semuanya? Dia menangis, apalagi saat ia cerita tentang kesehatanmu dan ia takut kehilanganmu. Dia juga pernah tidak sengaja membaca buku harianmu katanya, kau ingin sekali memiliki namja yang benar mencintaimu, kau iri akan saudaramu yang begitu bebas menikmati indahnya dunia ini, bebas bermain sesukanya dengan siapapun. Sedangkan kau selalu dirumah memandangi seisi kamarmu yang itu itu saja, kesepian tidak ada teman hanya ada beberapa boneka yang menemanimu setiap hari” jelasnya panjang dan kali ini ia pun ikut menangis apalagi aku tidak dapat menahan air mataku lagi
            “berarti kau mencintaiku hanya kasihan padaku akan keadaanku saat ini?” ucapku yang terus menangis
            “bukan itu yang aku maksud. Aku ingin menjadi yang pertama mencintaimu sepenuhnya” ucapnya dan menatap mataku tajam, akupun hanya bisa menatapnya juga. Ia semakin mendekatkan wajahnya kepadaku, semakin dekat namun aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku. Nafas nya sudah terasa saat ini jaraknya tidak ada satu centi.
‘I love you baby im not a monster’ terdengar nada dering dari handphonenya namun ia tidak perduli sama sekali dan tidak menjauh dariku dan aku tidak bisa berbuat apa apa lagi, tubuhku bergetar, jantungku berdetak tidak karuan. Tiba tiba ia mendaratkan bibirnya dibibirku sontak saja mataku langsung melotot karena belum ada satupun namja yang mencium bibirku ini.
Flashback
            “jina-ah kau ini kemana? Kau tidak membawa handphone, kau tidak membawa apa apa, dan kau pergi dengan siapa?” itu lah yang dari tadi daesung ucapkan, ia panik ketika melihat kamar jina dan ternyata jina tidak ada didalam kamar
            “dirumahmu ada siapa tadi? Seperti nya ada seseorang” ucap jiyoung yang ternyata mengingatkan daesung untuk menelpon seungri
            “hya, dia ini kemana, teleponnya saja tidak diangkat angkat” ia bertambah panik bagaimana tidak, orang yang dititipkan oleh yeoja kesayangannya pergi entah kemana
            “coba aku yang menghubungi seungri” ucap jiyoung langsung mengeluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi seungri. Namun hasilnya nihil padahal ia sudah berkali kali menelponnya.
Flashbak end
Seungri pov
            Saat aku berciuman dengan jina, tiba tiba ada cairan yang keluar dari hidungnya, aku pun langsung melepas bibirku dan melihat bibirnya berlumuran darah dari hidungnya dan aku panik. Aku tidak tahu dia kenapa
            “gwenchanayo jina? Aku terkejut melihatmu” ucap seungri menangis. Tubuh jina lemas tidak dapat berbicara, namun aku melihat ia menahan rasa sakit yang ia derita. Aku langsung mengambil telepon genggamku dan melihat sudah 30 panggilan tak terjawab dari daesung hyung dan 10 dari jiyoung hyung.
            “hyung, cepat kau ketaman, aku dan jina sedang berada disini dan wajah jina pucat serta hidungnya mengeluarkan darah. Ppali hyung ppali...” aku menelpon hyung. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tanganku pun sudah banyak berlumur darah. Tiba tiba jina jatuh pingsan. Daesung dan jiyoung hyung cepat datang kesini dan terlihat wajah dari keduanya panik aku juga cemas akan keadaan jina
            “aku sudah pernah mengatakannya bukan? Kalau jina tidak boleh keluar” ucap daesung hyung kesal serta panik. Kami langsung membawa jina kerumah sakit
Aku hanya terdiam menyenderkan tubuhku didinding rumah sakit. entah apa yang telah aku lakukan itu sehingga membuatnya seperti ini, aku sudah membuatnya menderita. ‘andai saja tadi aku tidak mengajakmu keluar, kau tidak akan begini’ gumamku.
Tiba tiba dokter yang menangani jina keluar dari ruangannya.      
            “keadaan jina kritis. Ia begitu lemas dan pucat. Apa yang ia lakukan tadi?” tanya dokter dan daesung langsung menoleh kearahku sehingga aku pun menunduk karena aku tahu daesung akan memarahiku lagi
            “ia hanya terlalu lelah, dan ia sudah sering mengalami ini setiap hari?” sambung dokter
            “aniyo, sepertinya tidak pernah” ucap daesung berfikir
            “mungkin kau tidak memeriksa keadaannya dikamar jadi kau tidak tahu dan yang aku teliti ia sering mengalami nya setiap jam 10 pagi namun ini yang paling parah sehingga membuat dia koma” jelas dokter
            “apa? Koma? Kenapa bisa sampai seperti ini?”
            “ia kekurangan banyak darah dan harus segera di donorkan namun golongan darahnya begitu langka” jelas dokter lagi dan langsung pergi meninggalkan kami
            “suruh jennie kesini daesung-ah” ucap jiyoung hyung memberi saran kepada daesung
            “nanti ia akan panik” ucap daesung yang tidak terlalu setuju karena ia tahu jennie disana sedang sibuk
            “daripada ia kehabisan darah lebih banyak nanti akan berakibat fatal lebih baik jennie meluangkan waktunya untuk belahan jiwanya” saran jiyoung yang langsung disetujui daesung hyung
Daesung hyung langsung menelpon jennie dan begitu jennie tahu keadaan jina parah ia langsung pergi kekorea, padahal dari kota paris kesini begitu jauh namun mungkin jennie tidak perduli seberapa jauh dan lamanya perjalanan yang terpenting nyawa jina harus selamat
            “hyung, mianhe jeongmal mianhe ini semua salahku” ucapku meminta maaf pada daesung hyung namun daesung hyung hanya terdiam dengan yang aku ucapkan mungkin ia masih kesal denganku
***
            Keesokkannya jennie datang dari paris dan langsung mendonorkan darahnya untuk jina. Sehabis itu keadaan jina lebih baik dan yang lebih membuatku tersenyum senang ia sudah sadar. Akupun meminta maaf padanya
            “jina, mianhe jinjja mianhe, gara gara aku kau jadi seperti ini”
            “gwenchana... kau lihat aku sudah tidak apa dan ini juga bukan salahmu” ucap jina menghapus air mataku yang mengalir
            “saranghae jina, jinjja saranghae...” ucap ku mengecup keningnya begitu dalam
            “nado saranghae oppa, kau adalah namja yang mengucapkan itu pertama kali padaku... sehingga aku tidak lagi merasa aku berbeda dengan jennie” ucap jina memegang erat kedua tanganku. Wajahnya yang dulu sangat imut, cerah dan semangat walaupun ia menderita tapi sekarang wajahnya pucat seperti kehilangan semangat walaupun ia membaik namun masih terlihat pucat
Jennie pov
            Setelah jina sadar dari komanya, ia sudah dapat makan tapi wajahnya masih terlihat pucat. Ia memanggilku untuk memasuki kamar nya dan tidak boleh ada yang ikut bersamaku untuk menemuinya
            “jennie, kau jangan menangis, gwenchana” ucapnya karena baru saja aku memasukinya aku sudah mengeluarkan air mata begitu deras entah apa yang aku tangisi padahal keadaannya sudah cukup membaik saat ini
            “ne, tidak lagi” ucapku menghapus air mataku meyakinkan bahwa aku tidak akan menangisinya lagi
            “jennie, ternyata kau membaca diaryku secara diam ya?” ucapnya membuatku kaget darimana ia tahu kalau aku pernah membacanya
            “mianhe jina, aku hanya ingin mengetahui perasaanmu lebih dalam. Dan ternyata gara gara penyakitmu batinmu juga sakit. Kau kesepian saat aku pergi sekolah kan? Padahal aku ingin menemanimu setiap hari” jelasku dan langsung mengeluarkan air mata begitu deras dari sebelumnya
            “tak apa jennie, kau boleh membacanya kembali setelah aku pulang dan masih ada satu buku lagi di lemariku karena aku menulis terlalu banyak jadi tidak cukup selama 21 tahun ini” ucap jina yang terbaring lemas lengkap dengan peralatan dokter ditubuhnya
            “waeyo?” tanyaku singkat, tidak mengerti akan maksud nya
            “agar kau memahami lebih dalam perasaanku... dan kau jangan pergi meninggalkan daesung oppa sendirian nanti ya. Bawa dia jika kau akan kembali ke paris”
            “daesung ditemani kau jina, jadi dia tidak akan sendirian”
            “andwae” ucapnya menarik napas dalam dan begitu membuang napas nya kepalanya langsung terjatuh lemas di bantal yang ia pakai saat ini, ia tidak sadarkan diri dan aku langsung menangis sejadi jadinya. Aku keluar dari ruangan dan langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Setelah diperiksa, ternyata jina sudah tiada ia sudah pergi untuk selamanya meninggalkanku dan seluruhnya. Aku langsung keluar memeluk erat tubuh daesung
            “jina sudah tiada chagi” aku langsung menangis ketika mengucapkan itu dan membuat semuanya tidak percaya padahal ia sudah sehat lebih dari biasanya, tapi kenapa ketika ia sehat ia harus pergi begitu cepat. Mungkin tuhan memberinya kesempatan untuk merasakan kenikmatan hidupnya walaupun secepat kilat.
            “jinjja?” tanya seungri padaku karena aku tahu seungri mencintainya
            “ne, aku tahu pasti kau sangat sakit, aku lebih sakit, jiwaku seperti hilang setengah ternyata ucapanya itu adalah pesan terakhirnya”
            “apa yang ia katakan?” tanya seungri lagi
            “ia mengatakan kalau aku disuruh baca kembali seluruh buku hariannya itu dan tidak boleh meninggalkan daesung sendirian jika aku kembali ke paris” jelasku tidak berhenti menangis
            “tidak ada pesan untukku?” ucap seungri penasaran
            “aniiya, sebaiknya kita baca dulu bukunya dan kita akan tahu semua perasaannya” ucapku memberi saran.
***
Hari ini aku, daesung, seungri, top, jiyoung, taeyang serta umma dan appa mengantarkan jasad jina ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku tidak berhenti menangis dan tidak percaya akan kepergiannya yang begitu cepat. Dan sekarang aku sudah tidak punya belahan jiwaku lagi karena sejak kecil kami selalu bersama walaupun aku lebih beruntung dari nya namun aku tetap menyayanginya untuk selamanya.
            “sudah kau jangan menangis seperti ini, kalau kau terus begini, ia tidak akan tenang disana” ucap taeyang oppa menepuk bahuku pelan dan membawaku pergi dari tempat terakhir jina
Ketika sampai dirumah aku langsung masuk kekamar jina. Melihat isi kamarnya yang begitu bersih, tertata rapih seluruh barang barang nya
            “dia belum pulang ketika aku ajak dia ke taman untuk terakhir kalinya dan aku mengungkapkan seluruh perasaanku padanya” ucap seungri menghampiriku tiba tiba, aku tahu kalau ia ingin sekali ikut membacanya.
Aku buka perlahan dengan tangan bergetar dan meneteskan air mata begitu deras sehingga hampir membasahi buku hariannya
Setelah membacanya aku tersadar bahwa sebenarnya ia menyukai daesung oppa sedari dulu sebelum aku berpacaran dengannya, karena daesung adalah namja yang ia temui saat membeli buku ini di toko buku dan kenal cukup dekat tapi kenapa aku yang malah memilikinya bukan dia. Setelah ia tidak begitu mencintai daesung dan ia sadar bahwa daesung tidak mencintainya melainkan hanya menganggapnya sebatas adik kakak ia menaruh perasaannya kepada seungri saat aku membawanya kerumah bersama jiyoung, taeyang dan seunghyu oppa. Dan ia tidak mau menaruh perasaan lebih padanya karena ia takut kalau cintanya tak terbalas lagi. Tapi kenapa ketika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi ketika mencintai seungri ia malah meninggalkan cintanya itu tanpa merasakannya lebih lama...
“kenapa aku tidak peka terhadapnya? Aku menyesal sekali” ucapku pada seungri dan ia pun menangis karena baru saja ia dekat dengan jina namun sudah ditinggalkan olehnya untuk selamanya namun ia yakin cintanya akan dibawa mati olehnya...
Dari kecil, aku memang lebih beruntung darinya buktinya aku tidak punya penyakit mematikan sepertinya. Aku dapat bersekolah di sekolah yang aku inginkan, sedangkan dia hanya homeschooling karena tubuhnya yang lemah dan menderita penyakit yang tidak aku ketahui selain leukemia yang ia derita. Aku dapat meneruskan kuliah sehabis high school namun jina tidak. Aku dapat meneruskan karirku walapun hanya kuliah sebentar sedangkan ia hanya berkutik pada buku buku yang ia kumpulkan dikamarnya. Sampai namja yang seharusnya ia miliki malah menjadi milikku. Aku merasa semua kebahagiaannya telah aku rebut sepenuhnya. Aku sangat merasa bersalah.
“im always love you jina” ucap seungri menggunakan bahasa inggris walaupun tidak terlalu fasih mengucapkannya.
“saranghae jina... i will love you always dan forever” ucapku menitikkan air mata
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar